Kamis, 14 Juni 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI DI LINGKUNGAN PERUMNAS III


PERTUMBUHAN EKONOMI DI LINGKUNGAN
PERUMNAS III

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQVmid1fxrTPRFfZncPtx_V4U47x2mYfq63quREDmIhfstiFFF1


NAMA           : FINA MARDIAH HAQ
NPM               : 31209292
KELAS          : 3DD04
TULISAN SOFTSKILL



UNIVERSITAS GUNADARMA
ABSTRAK
Penulisan ini bertujuan untuk meninjau seberapa besar pengaruh pertumbuhan ekonomi di lingkungan Perumnas III.  Pertumbuhan ekonomi merupakan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah Faktor Sumber Daya Manusia, Faktor Sumber Daya Alam, Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Faktor Budaya dan Sumber Daya Modal. Produk utama yang dihasilkan Perumnas adalah Perumahan Tidak Bersusun (Landed Housing), Rumah Susun Sederhana (Vertical Housing), Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba).
Semenjak Perumanas III menjadi perumahan yang sangat ramai membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di lingkungan sekitar. Selain itu angka pengangguran di Indonesia menjadi berkurang.










BAB I
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik.
Selanjutnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang. Di sini terdapat tiga elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi.
  • Pembangunan sebagai suatu proses
  • Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita
  • Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin Arsyad, 1999).
Masalah pokok dalam pembangunan daerah berada pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal (daerah). Sehingga kita peru melakukan pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses, yaitu proses yang mencakup pembentukan-pembentukan institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikam kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, dan pengembangan perusahaan-perusahan baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus memperkirakan potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999).

Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan telah menghasilkan krisis lingkungan hidup dunia yang ditandai dengan meningkatkadnya pemanasan global. Guna mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu agenda pembangunan ekonomi yang berkelanjutan yaitu upaya yang menyerasikan antara pembangunan ekonomi dan lingkungan hidup.
Sasaran pembangunan perumahan dalam jangka panjang di tu- jukan agar setiap keluarga menempati suatu rumah yang layak  serta dapat menjamin ketentraman hidup. Keadaan ini tidak da-  pat dicapai sekaligus dan dalam waktu yang singkat, tetapi diusahakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang ada   pada masyarakat maupun Pemerintah. Diharapkan bahwa usaha - usaha peningkatan mutu perumahan dan lingkungannya, baik di  daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan, dapat mencapai    suatu taraf dimana sebagian besar masyarakat Indonesia menem-  pati rumah sehat dalam lingkungan yang sehat.
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara terus mene-  rus telah dapat meningkatkan kemampuan negara dan masyarakat untuk memperluas tersedianya sarana sosial budaya, termasuk peningkatan pembangunan sektor perumahan rakyat dan pemuki-    man. Hal ini makin meningkatkan usaha pembangunan sektor pe­rumahan rakyat dan pemukiman, dan dengan demikian memperluas kesempatan rakyat untuk menikmati hasil-hasil pembangunan tersebut. Selanjutnya hal ini akan meningkatkan kesadaran rakyat akan arti dan manfaat pembangunan, sehingga pada gi­lirannya akan memperkuat tekad rakyat untuk melanjutkan pem­bangunan tahap-tahap berikutnya.
·         Teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori dibangun berdasarkan pengalaman empiris, sehingga teori dapat dijadikan sebagai dasar untuk memprediksi dan membuat suatu kebijakan. Terdapat beberapa teori yang mengungkapkan tentang konsep pertumbuhan ekonomi, secara umum teori tersebut sebagai berikut:
·         Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis
Teori ini dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
Werner Sombart (1863-1947)
Menurut Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
a.       Masa perekonomian tertutup
Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri:
  1. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri
  2. Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen
  3. Belum ada pertukaran barang dan jasa
b.      Masa kerajinan dan pertukangan
Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
  • Meningkatnya kebutuhan manusia
  • Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian
  • Timbulnya pertukaran barang dan jasa
  • Pertukaran belum didasari profit motive
c.       Masa kapitalis
Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa sebagai berikut:
-          Tingkat prakapitalis
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
  1. Kehidupan masyarakat masih statis
  2. Bersifat kekeluargaan
  3. Bertumpu pada sektor pertanian
  4. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri
  5. Hidup secara berkelompok
-          Tingkat kapitalis
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
  1. Kehidupan masyarakat sudah dinamis
  2. Bersifat individual
  3. Adanya pembagian pekerjaan
  4. Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan
-          Tingkat kapitalisme raya
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
  1. Usahanya semata-mata mencari keuntungan
  2. Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi
  3. Produksi dilakukan secara masal dengan alat modern
  4. Perdagangan mengarah kepada ke persaingan monopoli
  5. Dalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu majikan dan buruh
-          Tingkat kapitalisme akhir
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu :
  1. Munculnya aliran sosialisme
  2. Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi
  3. Mengutamakan kepentingan bersama
Friedrich List (1789-1846)
Menurut Friendrich List, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:
  1. Masa berburu dan pengembaraan
  2. Masa beternak dan bertani
  3. Masa bertani dan kerajinan
  4. Masa kerajinan, industri, perdagangan
Menurut Karl Bucher, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibedakan menjadi empat tingkatan sebagai berikut:
  1. Masa rumah tangga tertutup
  2. Rumah tangga kota
  3. Rumah tangga bangsa
  4. Rumah tangga dunia


W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya yang bejudul The Stages of Economic Growth menyatakan bahwa pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:
a.       Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
  1. Merupakan masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas.
  2. Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern
  3. Terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai
b.      Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the preconditions for take off)
  1. Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi.
  2. Sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang pertanian maupun di bidang industri.
c.       Periode Lepas Landas (The take off)
  1. Merupakan interval waktu yang diperlukan untuk emndobrak penghalang-penghaang pada pertumbuhan yang berkelanjutan.
  2. Kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi diperluas
  3. Tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat
  4. Investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan nasional.
  5. Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi dengan cepat.
d.      Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity)
  1. Merupakan perkembangan terus menerus daimana perekonoian tumbuh secaa teratur serta lapangan usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern.
  2. Investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan investasi ini berlangsung secara cepat.
  3. Output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk
  4. Barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri.
  5. Tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pad masa take off dengan penerapan teknologi modern
e.       Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption)
  1. Sektor-sektor industri emrupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa.
  2. Pendapatn riil per kapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan.
  3. Kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi.
  4. Pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi
·         Teori Klasik dan Non Klasik
Teori Klasik
-          Adam Smith
Teori Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertambahan penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil. Teori Adam Smith ini tertuang dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.
-          David Ricardo
Ricardo berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga perekonomian akan mengalami kemandegan (statonary state). Teori David Ricardo ini dituangkan dalam bukunya yang berjudul The Principles of Political and Taxation.
Teori Neoklasik
-          Robert Solow
Robert Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern dan hasil atau output. Adapun pertumbuhan penduduk dapat berdampak positif dan dapat berdampak negatif. Oleh karenanya, menurut Robert Solow pertambahan penduduk harus dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.
-          Harrord Domar
Teori ini beranggapan bahwa modal harus dipakai secara efektif, karena pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga membahas tentang pendapatan nasional dan kesempatan kerja



Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah :
§  Faktor Sumber Daya Manusia
Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
§  Faktor Sumber Daya Alam
Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
§  Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
§  Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
§  Sumber Daya Modal
Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.













BAB II
PEMBAHASAN

·         Sejarah Perumnas
PERUMNAS adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perusahaan Umum (Perum) dimana keseluruhan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah. Perumnas didirikan sebagai solusi pemerintah dalam menyediakan perumahan yang layak bagi masyarakat menengah ke bawah.
Perusahan didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1974, diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1988, dan disempurnakan melalui Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2004 tanggal 10 Mei 2004.  Sejak didirikan tahun 1974, Perumnas selalu tampil dan berperan sebagai pioneer dalam penyediaan perumahan dan permukiman bagai masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Perumahan yang baik juga memungkinkan terjalinnya komunikasi yang baik antarwarga. Salah satunya yaitu dengan membangun sarana transportasi yang memadai,aman, dan menjangkau seluruh area permukiman. Aksesibilitas yang baik dari sistemtransportasi dapat mendukung terjalinnya hubungan yang harmonis dalam kehidupanbertetangga. Adanya pusat aktivitas sosial dan keagamaan bagi warga perumahandapat meningkatkan hubungan sosial yang harmonis. Selanjutnya, keharmonisan inidapat menjadi alat pemersatu dan dapat meminimalkan terjadinya tindak kriminal dilingkungan perumahan yang bersangkutan.
Melalui konsep pengembangan skala besar, Perumnas berhasil memberikan kontribusi signifikan dalam pembentukan kawasan permukiman dan kota-kota baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai BUMN pengembang dengan jangkauan usaha nasional, Perumnas mempunyai 7 Wilayah usaha Regional I sampai dengan VII dan Regional Rusunawa. Kualitas suatu lingkungan merupakan salah satu persoalan utama di dalam perancangan kota dan selalu menjadi perdebatan. Perdebatan tersebut tidak terlepas dari dinamika pendekatan masalah perancangan kota itu sendiri sebagai bagian dari sebuah proses pembangunan kota yang bersifat multidimensi.
Helvetia Medan, Ilir Barat Palembang, Banyumanik Semarang, Tamalanrea Makasar, Dukuh Menanggal Surabaya, Antapani Bandung adalah contoh permukiman skala besar yang pembangunannya dirintis Perumnas. Kawasan Permukiman tersebut kini telah berkembang menjadi "Kota Baru" yang prospektif. Selain itu, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi juga merupakan "Kota Baru" yang dirintis Perumnas dan kini berkembang pesat menjadi kawasan strategis yang berfungsi sebagai penyangga ibukota.
Visi Perumnas
"Menjadi Pelaku Utama Penyedia Perumahan dan Permukiman di Indonesia"
Misi Perumnas
  • Menyediakan perumahan dan permukiman yang berkualitas dan bernilai bagi masyarakat.
  • Memberikan kepuasan pelanggan secara berkesinambungan melalui layanan prima.
  • Mengembangkan dan memberdayakan profesionalisme serta meningkatkan kesejahteraan karyawan.
  • Menerapkan manajemen perusahaan yang efisien dan efektif.
  • Mengoptimalkan sinergi dengan Pemerintah, BUMN dan instansi lain.

Sejarah Perumnas secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa periode, berdasarkan pencapaian yang diperoleh dan peranannya sebagai pengembang perumahan dan permukiman di Indonesia. Perusahaan didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1988, dan disempurnakan melalui Peraturan Pemerintah No.15 Tahun 2004 tanggal 10 Mei 2004.


http://www.perumnas.co.id/images/milestone.png


·         Portofolio Perumnas
Sesuai dengan tujuan didirikannya perusahaan, manajemen tetap memegang komitmen terhadap misi yang diemban Perumnas yaitu melayani penyediaan rumah murah yang layak dan terjangkau. Perumnas sejak didirkan tahun 1974 hingga tahun 2008 telah melaksanakan pembangunan baik rumah tidak bersusun (landed housing) maupun rumah susun (vertical housing) di seluruh Indonesia, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Secara umum, produk utama yang dihasilkan Perumnas adalah:
a.        Perumahan Tidak Bersusun (Landed Housing):
Perumnas sebagai Pengembang misi Pemerintah dalam menyediakan kebutuhan pokok masyarakat, yaitu perumahan dan permukiman, sejak didirikan pada tahun 1974 telah membangun lebih dari 500.00 unit rumah dengan berbagai tipe di seluruh Indonesia.
Sebagai perintis pengembangan perkotaan, Perumnas telah berhasil melaksanakan misi pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan sampai di wilayah terpencil. Hal ini terbukti di antara kota-kota yang telah dibangun perumahan di lebih dari 150 kota. Dan Perumnas selalu konsisten fokus pada pembangunan kelas menengah ke bawah.
Perumahan yang dibangun Perumnas telah dilengkapi dengan fasilitas umum dan fasilitas sosialnya sehingga tercipta lingkungan yang nyaman untuk ditinggali. Beberapa tipe rumah yang dibangun Perumnas adalah Rumah Sederhana Sehat (RSh), Rumah Sederhana (RS), Rumah Menengah (RM).

Perumnas Tidak Bersusun terdiri dari :
    • Rumah Sederhana Sehat (RSh)
    • Rumah Sederhana (RS)
    • Rumah Menengah (RM)
    • Kapling Tanah Matang (KTM)

b.       Rumah Susun Sederhana (Vertical Housing):
Pada tahun 1980, Perumnas merintis pembangunan perumahan secara vertikal (rumah susun), terutama di kota-kota besar yang lahan tanahnya makin terbatas. Selain untuk mengatasi keterbataan lahan di kota besar, pembangunan rumah susun juga dilaksanakan untuk mendukung program peremajaan perkotaan.
Realisasi Rumah Susun Sederhana (Rusuna) ini tersebar di beberapa lokasi di Jakarta seperti Tanah Abang, Kebon Kacang, Klender, Kemayoran dan Pulo Gadung. Di luar Jakarta, Rusuna juga dibangun di Bandung Sarijadi, Surabaya Menanggal, Medan Sukaramai, dan Palembang Ilir Barat.
Dengan Pengalaman yang konsisten di bidang penyediaan perumahan dan permukiman, Perumnas mempunyai potensi dan kapabilitas untuk memberikan advokasi dan konsultansi kepada Pemda di bidang perumahan dan permukiman. Demikian juga dalam hal mengelola Rusunawa. Perumnas yang saat ini mengelola hampir 7.000 unit satuan rumah susun di 16 lokasi yang terletak di 9 provinsi di Indonesia.


Rumah Susun Sederhana terdiri dari :
    • Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami)
    • Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)
                              
  1. Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba).
 Pembentukan Kawasan Siap Bangun (Kasiba) yang berfungsi sebagai bank tanah (land bank), adalah jawaban atas berbagai fenomena yang berpotensi menghambat kelancaran pengadaan perumahan dan permukiman di perkotaan. Terbatasnya persediaan tanah di perkotaan, mengakibatkan munculnya spekulan tanah sehingga harga tanah mahal. Untuk itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun, dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
Perumnas menjalankan amanat UU No. 4/1972 tentang Perumahan dan Permukiman dan PP No. 80/1978 tenatng Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri (Lisiba BS). Perumnas telah mengembangkan kawasan skala besar dengan pola Kasiba adalah di Driyorejo Gresik (luas perencanaan 1000 Ha), Martubung Medan (300 Ha), serta Cengkareng (209 Ha).





·         Pembahasan
Perumnas 3 sudah ada sejak tahun 1980an, dahulunya Perumnas 3 hanya kebun dan rawa, jarang orang yang minat untuk mengambil atau menempati rumah di daerah ini. Padahal harga cicilan rumah di Perumnas 3 tidak terlalu mahal, tetapi karena kondisi dilingkungan Perumnas 3 masih sangat sepi selain itu akses ke jalan besarpun masih terlalu jauh jadi peminatnya pun berkurang. Angkutan umum pun belum ada yang masuk kedalam perumahan ini, pasar pun sangat jauh harus jalan kaki dahulu baru bisa naik angkutan umum untuk menuju pasar. Bunyi jangkrik dan kunang-kunang tiap malam selalu member kehangatan di sekitar perumahan ini.
Walalupun masih sepi tetapi suasana itu jarang seklai ditemukan, anak-anak kecil bahkan orang tua pun sering keluar rumah untuk melihat kunang-kunang tesebut dan bunyi suara jangkrik tersebut menemani malam yang indah di perumahan tersebut. Tetapi semenjak tahun 1990an banyak warga yang menempati wilayah ini. Bahkan sekolahan banyak dibangun di Perumnas 3. Angkutan umum sudah mulai masuk ke dalam perumahan ini, akses untuk ke pasar ke sekolah atau kemana pun menjadi lebih mudah dibandingkan dengan tahun 1980an. Tetapi semenjak tahun 1998 banyak penziarahan dimana-mana, semua usaha yang berada di wilayah Bekasi Timur semuanya di tutup karena mereka tidak mau mengambil resiko. Termasuk toko-toko yang berada di wilayah Perumnas 3 semuanya tidak berani buka karena takut akan di zarah, semua isi toko di ambil. Pemilik toko tidak bisa melawan karena masyarakat yang berzarah jumlahnya terlalu banyak.
Semenjak itu banyak bangunan-banguan di daerah ini kosong dan tidak berpenghuni. Penziarahan ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian di lingkungan sekitar, banyak warga yang sulit untuk membeli kebutuhan sehari-hari karena semua toko tutup. Semua harga pada naik, kebutuhan pokok pun sangat sulit untuk di dapat, tahun 1998 ini tahun yang sangat krisis ekonomi. Banyak pengangguran dimana-mana, akibatnya banyak maling copet dan sebgainya akibat pengangguran tersebut. Rakyat miskin di Indonesiapun semakin banyak.
            Semenjak awal tahun 2000 kondisi lumayan membaik banyak pertokoan, perumahan, sekolah, tempat bimbel, dll sebagainya banyak di bangun kembali. Pertumbuhan perekonomian di wilayah ini semakin membaik semenjak banyaknya perumahan yang di bangun di daerah Bekasi Timur. Perumnas 3 menjadi perumhaan yang ramai penduduknya lokasinya sangat strategis letaknya tidak jauh dari tol timur akses jalan pun sangat ramai. Semakin banyak yang menempati perumahan di Perumnas 3 tersebut maka banyak dibangun ruko-ruko di sepanjang jalan raya utama Perumnas 3 tersebut. Mulai dari rumah makan, toko baju, toko sepatu, toko mainan anak-anak, alat rumah tangga, counter hp, photocopyan, tempat bimbel, sekolahan, baik Tk SD SMP ada di Perumnas 3 bahkan Bank pun juga di bangun di dalam perumahan tersebut.
 Setiap malam di jalan raya Perumnas 3 tidak pernah sepi, lalu lalang orang pun sangat banyak, berbagai macam makanan ada disana, ingin makan apapun ada disana, bahkan sekarang pom bensin pun ada di Perumnas 3. Selain itu setiap hari selasa khususnya sore hari mulai pukul 5 sore, ada yang namanya pasar kaget yaitu pasar yang ada hanya setiap sore sampai malam saja biasanya pasar ini ada di Jalan Pulau Bali. Di sana berjualan bermacam-macam mulai dari aksesoris hp, makanan, pakaian, bahkan disana ada permainan untuk anak-anak. Banyak keluarga yang sengaja datang ke tempat itu untuk bermain-main bersama anak-anaknya. Para pedagang yang berjualan rata-rata bertempat tinggal tidak jauh dari perumahan Perumnas 3 tersebut. Banyak dari mereka yang tadinya hanya sebagai ibu rumah tangga bahkan banyak yang pengangguran, tetapi semenjak Perumanas 3 menjadi perumahan yang sangat ramai membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di lingkungan sekitar. Selain itu angka pengangguran di Indonesia menjadi berkurang.
            Seandainya saja pemerintah dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi maka tidak ada lagi pengangguran di Negara kita, angka kemiskinan pun semakin berkurang. Penyebab kemiskinan tidak lain dari pengangguran tersebut. Banyak keluarga yang tidak mampu dan tidak mempunyai pekerjaan sehingga mereka harus berjuang hidup  bahkan sebagian dari mereka ada yang melakukan perbuatan kriminal seperti merampok, mencuri dan sebagainya. Mereka melakukan ini semata-mata untuk membiayai hidup keluarganya.
            Jika saja pemerintah tidak cepat menangani masalah ini maka Negara ini akan semakin miskin angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat. Seharusnya pemerintah dapat bekerjasama dengan para pengusaha karena seperti kasus diatas pengusaha yang telah membangun perumahan di daerah Bekasi Timur tersebut sangat membantu pemerintah. Selain itu pertumbuhan ekonomi di lingkungan tersebut semakin membaik pengangguran di daerah tersebut pun semakin berkurang.










BAB III
KESIMPULAN

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Terdapat beberapa teori yang mengungkapkan tentang konsep pertumbuhan ekonomi, secara umum teori tersebut adalah Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis, Teori Klasik dan Non Klasik. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah Faktor Sumber Daya Manusia, Faktor Sumber Daya Alam, Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Faktor Budaya dan Sumber Daya Modal.
Perumnas adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perusahaan Umum (Perum) dimana keseluruhan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah. Perumnas didirikan sebagai solusi pemerintah dalam menyediakan perumahan yang layak bagi masyarakat menengah ke bawah. Produk utama yang dihasilkan Perumnas adalah Perumahan Tidak Bersusun (Landed Housing), Rumah Susun Sederhana (Vertical Housing), Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba).
Perumanas 3 menjadi perumahan yang sangat ramai membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di lingkungan sekitar. Selain itu angka pengangguran di Indonesia menjadi berkurang.


DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar